ari raya Idul Fitri, seperti biasa semua bersuka ria senyum mempesona... hari raya umat muslim dunia katanya. Lebaran, demikian sebagian orang menyebutnya. Hari yang ‘besar’ jika diartikan dari ‘raya’nya. Besar karena maknanya, besar karena ada sebab sesuatu yang terkandung didalamnya. Tak sekedar lebur segala kesalahan dengan saling bermaafan. Dan Idul fitri sebagai penanda kembalinya iftar, kembali berbuka setelah sebulan penuh berpuasa, pun haram hukumnya berpuasa di hari raya ini. Kembali ke fitrah lazim diyakini yang lainnya, apa benaar?? Penuh tanda Tanya. Dengan tak mau tahu apakah ramadhannya berhasil ato tidak sehingga menganggap kembali fitrah. Harga yang tidak mahal kembali ke fitrah kesannya ya, mudaah banget??. Ah menarik sekali..
Semua ceria, semua bahagia apapun keadaannya. Yang dulunya bermusuhan dengan lebaran ada sapa tak terasa, ada lekat kembali mencuat. Kembali bercanda bertutur kata. Yang menahan senyum ketika bertemu, sunggingan bibir kembali merekah saat berjumpa. Sekian waktu tak bisa memaafkan, dengan legowo memberi asa kembali untuk kembali mengawali. Ada yang merantau tidak pulang-pulang, ada rindu kembali untuk silaturahmi. Semua seakan melupakan marah yang membuncah, yang menyumpek di hati untuk ceria kembali. Melupakan dendam yang belum padam. Ajaiib memang, satu hari yang bisa mengubah keadaan.
Dan masih ajaib memang, hari ini pun mengubah satu sisi lainnya. Disaat sekian orang berceria berbahagia, sedih dan menyedihkan di rasakan di RumahNYA. Sebulan eforia ibadah ramadhan, hilang tak berbekas tanpa meninggalkan jejak tersisa. Hanya segelintir makhlukNYA yang membuktikan kualitasnya. Saat ramadhan dengan khusuk menunggu adzan di RumahNYA, sekarang, panggilan iqomat sudah sekian saat, tak jua ringan langkah mengayun. Saat Ramadhan, menunggu fajar di rumahNYA sungguh nikmat bersemangat, kini adzan begitu merdu meninabobokkan kembali eraih mimmpi. Disaat Ramadhan, Dzuhur Ashar dengan ringan menghentikan kerja kerja dunia menjadi kerja kerja akherat, ah sekarang berat terasa menunaikannya, merasa tidak perlu meninggalkannya. Saat Ramadhan, rapi wangi menghadang Mahrib menjelang, tapi kini seakan tak peduli untuk menemui. Saat Ramadhan, bangga ketika ditanya “Mau kemana kang?”, lantang bangga dijawabnya pula “..sholat tarawih”. Ah yang sunnah pun menarik untuk di raih. Kini yang wajib begitu ringan tuk di tinggalkan.